"Di mana mencari donat warna pink ?" tanya Alwi pada Ilung, teman sebangkunya, sewaktu mereka pulang sekolah.
"Eh, sebentar, untuk apa elo mencari-cari donat warna pink ? Kayaknya something special, nih ?"
"Enggak ada apa-apa, tapi rasanya dengan donat itu saya bisa memberikan sesuatu kepada seseorang, deh," jawab Alwi, diplomatis.
"Eh, emangnya ada donat warna pink ?" tanya Ilung yang unya kulit putih dan rambut ngeplek itu jadi penasaran.
''Ya, justru itu saya bertanya ke kamu, tau nggak di mana mendapatkan donat warna pink ?"
"Gue kurang tau soal donat, lagian gue kurang suka donat !" tukas Ilung. "Abis tengahnya bolong, sih! Hihihi."
Alwi nyengir, tapi selanjutnya bilang, "Itu dia hebatnya donat, dia punya ciri yang nggak bisa diikuti oleh kue-kue lain, tengahnya selalu bolong !"
"Jadi donat seluruh dunia kompak, dong ?" timpal Ilung lagi.
"Iyalah !" tukas Alwi.
"Kalo ada donat yang tengahnya nggak bolong, gimana ?" pancing Ilung.
"Itu namanya donat bandung !" jelas Alwi lagi. "Tapi ngomongin soal bolong saya jadi inget ama koleksi joke-nya si Yudhi. Tau nggak kenapa setan 'sundel bolong' suka memamerkan bagian tubuhnya yang bolong ?"
"Wah, nggak tau gue !"
"Soalnya kalo bagian depannya, namanya 'sundel bodong' !"
"Hihihi, bisa aja !"
Alwi dan Ilung terus menyusuri trotoar jalan yang panas.
"Eh, ngomong-ngomong ada nggak sih donat yang tengahnya nggak bolong ?" tanya Ilung yang rupanya jadi tertarik membicarakan masalah donat.
"Kalo tengahnya nggak bolong, bukan donat lagi namanya, tapi combro !" tukas Alwi serius.
"Combro ? Apaan lagi, tuh ?" Ilung berkrenyit.
"Eh, norak kamu nggak tau combro, makannya gaul dong ama internet !"
"Combro ada di internet ? "
"Coba deh kamu bika situs www dot com dot bro, pasti kamu bisa tau semua arti combro !" jelas Alwi dengan memasang mimik wajah serius.
Sementara Ilung masih bingung, "Oh, ya ?"
Yang jelas, Alwi ingin mencari donat spesial yang tengahyna tetep bolong, dengan taburan gula cair atau bubuk, kacang halus atau misis, sekali lagi terserah, yang penting, keseluruhan bodinya berwarna pink!
Awalnya cowok aktivis Rohis kelas dua SMA yang punya kulit hitam manis dan rambut keruj alias keriting ujung itu mendengar obrolan sebagian anak yang mau ngasih suprise buat Dinda, cewek yang jadi kembang di kelas 2A.
Alwi bukan nggak naksir Dinda, tapi doski tau diri, anak Rohis nggak boleh ikutan kayak gitu.
Jadi waktu itu, Alex, Doni, dan Jono, cowok-cowok borju dari 2A ngasih suprise buat Dinda yang konon katanya mau ultah, dan katanya sih ultahnya barengan sama hari valentine.Alwi sih nggak peduli ama harinya, yang penting Alwi ingin tahu suprise apa yang akan diberikan pada Dinda. Makanya Alwi stay tune alias nguping terus!
"Gue pinginngasih bunga yang paling indah yang ada di atas muka bumi ini !" teriak Alex dengan yakin.
"Bunga apaan ?" tanya Doni
"Bunga mawar dari Belanda ?" tebak Jono.
"Bunga dari puncak guning Himalaya ?" kata Doni.
"Bukan, tapi yang jelas bunga bank, gituloh !"
"Ah, basiii !" teriak Jono
"Eh, jangan basa-basi dulu, dengan bunga bank itu gue akan belikan sesuatu !"
"Kalo gue sih mau ngasih paket romantis, artinya sesuatu yang berbau romantis akan gue berikan kepadanya dalam kemasan kaset, cd, vsc, dvd, betacam, metamax, vhs, disket, cd writer, presdis...!" ujas Doni nggak mau kalah.
"Wah, boleh juga ide lo !" tukas Jono salut.
"Kalo lo mau ngasih apa ?" tanya Doni ke Jono.
"Kalo gue sih mau ngasih HP seri terbaru, dong !" terang Jono kemudian "supaya dia selalu bisa gue hubungi dan menghubungi gue, gitu !"
"Wooo.... keren abis !" teriak Doni memuji Jono.
"Okay, gini aja, deh ! Kita masing-masing buktiin aja, kira-kira hadiah dari siapa yang bisa bikin Dinda terkesan !" teriak Alex.
"Okay," sambut Doni. "Eh, tapi ngomong-ngomong Rocky nggak ikutan konpetisi nih ?"
"Tau, katanya doski lagi nggebet ama anak kelas satu yang ikutan cover girl majalah Misteri ?" terang Alex.
"Oooh, berarti persaingan tinggal di antara kita, dong ? Okay, kalo gitu kita tos dulu! Ingat, kita bersaing secara sehat, bow !"
Nah, berangkat dari nguping obrolan itulah, Alwi terpikir mencari donat warna pink untuk diberikan pada Dinda secara diam-diam, maksudnya tentu saja pengin ikut-ikutan ngasih suprise, dan syukur-syukur Dinda jadi simpati padanya dan ujung-ujungnya Alwi bisa mempengaruuhi Dinda bergaul sama anak-anak Rohisgitu. Alwi yakin kalo Dinda mau bergaul dengan anak-anak Rohis dia akan terhindar dari inceran cowok-cowok iseng seperti mereka. Apalagi kalo Dinda mau mengubah penampilannya yang selalutebar pesona itu ....
"Ya, iseng-iseng berhadiah, deh !" ungkap Alwi waktu itu.
Selanjutnya, Alwi ternyata mudah saja mendapatkan donat dari sebuah rumah mungil yang sehari-harinya bikin donat untuk dikirim ke warung-warung yang letaknya juga nggak jauh dari rumahnya. Alwi pesan setengah lusih!
Setelah itu - seperti yang dilakukan oleh semua peserta - ia berikan secara diam-diam kepada Dinda.
Alex menitipkan kepada teman sebangku Dinda, namannya Wati, sedangkan Doni malam-malam datang kerumah Dinda lalu meletakkan bungkusan di depan rumah. Jono sebelum subuh naruh bungkusan di depan garasi.
Sementara Alwi, pulang sekolah, menitipkan bungkusan donat itu kepada tukang kebun Dinda.
"Apa nih ?" tanya si tukang kebun.
"Tolong kasihkan ke Dinda . Ati-ati ya Mas, ada suratnya. Jangan sampe ilang, " kata Alwi.
"Oh, makasih."
Dan beberapa hari kemudian Alex,Doni, dan Jono menunggu jawaban dari Dinda. Ternyata Dinda hanya mengucapkan terima kasih saja kepada mereka, tidak lebih. Artinya, Dinda tidak memberian respon kecuali thank you!
"Yah, bukan rejeki kita kali?" Alex pun mengangkat bahu.
"Jadi gimana, dong ?" Doni agak jutek juga.
"Ya udah, kita cari cwwe lain yang mau menerima hadiah suprise dari kita !" hibur Jono.
"Eh, tapi gue dengar ada yang ngasih donat ke Dinda !" tukas Alex.
"Gila, berani amat tuh anak ?" jelas Doni. "Apa dia nggak tau Dinda paling sebel ama donat ?"
"Sebal ama donat ?" tanya Jono.
"Wah, lo lupa ya ? Nyokapnya Dinda meninggal waktu dinda bawain donat!" terang Alex.
"Hah, gila, apa donat itu memiliki kekuatan mistik ?" Jono nggak percaya.
"Meninggalnya sih bukan secara langsung oleh donat itu, " potong Alwx. "Ceritanya gini, nyokapnya kan sakit jantung, dan Dinda pengen banget bisa mendampingi nyokapnya di rumah sakit. Tapi pulang sekolah Dinda malah mampir dulu ke mal, terus nyari-nyari donat yang emang jadi makanan kesukaannya. Tapi gara-gara nyari donat yang aneh itulah..., "
"Aneh gimana ?" sambar Jono lagi.
"Si Dinda tuh pengen nyari donat medol bintang, jadinya dia harus pesen dulu. Doski emang hobi banget makan donat, jadinya di bela-belain juga. Tapi akibatnya pas sampe di rumah sakit nyokapnya udah meninggal, dan dia juga ngerasa nyesel banget, kenapa juga bela-belain nyari donat.... "
"Jadi sampe sekarang dia sebel ama donat ?" tanya Jono lagi.
"Ya, gitu! Perasaan udah hampir setahun dia nggak pernyah nyentuh, ngeliat atau nyicipin yang namanya donat! Pokoknya donat no way , dehh !"
"Iiiih, ane, ya ," kata Jono.
"Dan lebih aneh lagi, kemaren tau-tau ada orang yang datang kerumahnya secara misterius, ngasih donat pula !" tukas Doni. "Dinda pernah berjanji nggak mau ngeliat donat lagi sampai waktu yang belum bisa di temtukan!"
"Eh, lo tau dari mana kalo Dinda dapet hadiah donat ?" tanya Jono bari ngeh.
"Lho, si Wati, yang cerita ke gue !" sergah Alex.
"Dan donatnya warna pink lagi !" sambung Doni
"Hah, donat warna pink ? emang ada?" Jono mendelik.
"Dan kata Wati, Dinda sekarang llagi nyari siapa orang yang 'nekat' ngirim donat itu ?" Alex masih terus memberikan informasi.
"Udah ketahuan orangnya ?" tanya Doni.
"kayaknya sih belum. Soalnya tu orang nggak nulis nama jelas, " imbuh Alex.
"Dinda nyari orang itu mau ngucapin makasih atau....?" selidik Jono.
"Udah pasti pengen ngelabrak lah ! Kan tadi udah gue bilang, kalo dia lagi alergi sama donat !" tukas Alex.
"Wah, seru juga nih ? Terus kita-kira siapa ya orang yang ngasih donat warna pink itu ?" Jono pun semakin penasaran.
"Ya, gue nggak tau ..... "
"Din, gimana udah ketahuan siapa yan g ngasih donat itu ?" tanya Wati. kawan sebangku Dinda.
Cewek cantik ini mengangguk pelan-pelan dan kemudian berkata, "Gue bisa tau dari tulisan tangannya..."
"Dan lo pasti akan melabrak dia ? Karena lo jadi teringat masa-masa sedih lo waktu nyokap lo meninggal ?"
Dinda diam.
"Sorry deh, kalo jadi sensi gitu. Eh, terus gimana cowok-cowok yang lain ? Ada yang bisa menarik perhatian lo ? Mereka ngasih apa ?"
Dinda menghela napas, "Macam-macam, tapi...."
"Tapi kenapa ?" Wati jadi penasaran.
"Yah, nggak ada yang meninmbulkan kesan, karena semua gift yang mereka kasih itu biasa aja. "
"Jadi...?"
"Ya, justru donat warna pink itu?"
"Lo terkesan ?"
"Ya"
"Bukannya lo trauma sama donat ?"
"Tapi kejadiannya beda, dan sekarang justru dengan adannya yang ngasih donat warna pink, gue jadi teringat nyokap gue yang udah nggak ada lagi, dan gue jadi ngedoain dia. Terus juga mulai nyadar kenapa juga gue harus marah-marah sama donat ? Ya kan? Salah apa si donat ?"
"Jadi, inilah alasannya kenapa lo pengen banget mengetahui siapa yang mengirim donat itu ?"
"Ya, gue mau ngucapin terima kasih ama cowok itu."
"Sejauh itu lo udah tau kira-kira siapa yang ngirim donat itu ?"
"Gue punya filing."
"Siapa ?"
"Alwi."
"Alwi? Anak baru si pendiem itu?"
Dinda mendekati Alwi, yang lagi makan di kantin barengan Ilung. Alwi pun kaget.
"Kamu yang ngirim donat warna pink ya?" tanya Dinda tanpa basa-basi.
"Donat warna pink?" Alwi melirik ke Ilung, lalu, "Ah, eh, e-enggak..."
Dinda menahan napas, kemudian barkata lagi, "Kirain kamu yang ngirim, soalnya dari tulisan di kertas itu hampir sama dengan tulisan tangan di buku-buku kamu."
"Oh, ya?" Alqi berusaha tenang. "Ee-eh, tapi s-saya sebetulnya cuma..."
"Hm, ya udah. sorry ya ngganggu," kata Dinda siap meninggalkan Alwi. Tapi sebelum melangkah, dia melihat ke arah Alwi lagi, "Hm, tadinya aku mau ngucapin makasih, karena dengan kiriman itu aku jadi keinget lagi ama mamaku. Tapi ya udah deh, aku mau nyari siapa yang telah mengirim...."
Dinda pun meninggalkan Alwi dan Ilung.
Selanjutnya Alwi jadi berpikir, "Hm, apakah cara ini efektif untuk menarik Dinda atau malah sebaliknya ?"
Alwi jadi ragu. Dinda anak yang cantik. Tanpa bermaksud menebar pesona pun, Dinda sudah sangat mempesona.
"Eh, kenapa tadi ngak cepet bilang bahwa memang elo yang memberikan donat itu ?"tanya Ilung heran."kenapa kesempatan ini elo biarkan pergi begitu saja ?"
"Tapi saya ragu,Lung. Apa betul nanti dia simpati pada saya dan kemudian mau ikutansegala macam kegiatan Rohis ? atau malah saya berbalik simpati padanya...dan ujung-ujungnya saja jauh dari kegiatan Rohiskarena menjadi terlalu dekat kpadanya..."
"Lho, emangnya kenapa kalo elo deket ama dia ?"
"Bahaya Lung, namanya orang jatuh cinta, bisa bikin segala sesuatu berubah seratus delapan puluh derajat!Jangan deh, niat saa awalnya bukan untuk itu, saya hanya berusaha untuk menarikperhatiannya biar dia mau ikutan kegiatan Rohis, tapi saya kemudian berpikir apakah cara ini betul ?Nanti kalo dia malah kecewa gimana?"
"Tpi kan nggak apa-apa awalnya dia mengetahui siapa yang mengirim donat itu, terus elo bisa aja dia ngobrol tentang kegiatan-kegiatan Rohis, dan elo bilang bahwa elo ngirimdonat itu maksudnya berbeda dengan si Alex, Doni, dan Jono!"
Alwi jadi berpikir lagi.
"Iya, ya, niatnya supaya bisa kenal dulu, baru deh ngomong soal itu..."Alwisemakin bimbang, "Ya, saya takut dia marah. Jadi sekaranggimana, menurut kamu?"
Ilung berpikir sejenak, "Mendingan elo kejardan elo ngaku bahwa elo yang ngirim donat itu!"
"Ya, ya," Alwingangguk-ngangguk.
Pas pulang sekolah, Alwi pun nekat mencegat langkah-langkah Dinda, dan hendak mengakui bahwa dialah yang mengirim donat itu.
"Ya, begitulah Din, ceritanya..." ujar Alwidengan napas tak teratur di depan Dinda.
Tapi Dinda kemudian heran dan kemudian menatap aneh ke arah Alwi, "Kamu sebaiknya jangan coba ngaku-ngku, kalo emang nggak ngirim. Tuh, lihat si Rocky, dia yang ngirim donat itu. Bahkan sekarang dia membawakan lagi beberapa bungkus lagi donat warna pink untukku...."
Alwi pun tercekat melihat ke arah Rockydengan senyum liciknya yang saat itu sedang menjinjing beberapa bungkusan donat warna pink untuk dinda.
CpoyRight By : DonWoribihepi